Teknologi dan Nilai-nilai Isla...
17 May 2026
Teknologi dan Nilai-nilai Islam: Bisakah Berjalan Bersama dalam Dunia Pendidikan?
Penulis: Sri Melawaty B., S.Kom
Dunia pendidikan sedang berubah sangat cepat. Cara anak belajar hari ini berbeda jauh dibandingkan dengan 10 atau 20 tahun yang lalu. Anak-anak sekarang lahir di tengah dunia digital. Mereka terbiasa dengan video singkat, internet, media sosial, visual interaktif, bahkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Kalau sekolah tidak ikut berkembang, maka pendidikan akan terasa semakin jauh dari dunia mereka. Namun di sisi lain, banyak guru dan orang tua mulai khawatir.
“Kalau pendidikan terlalu fokus pada teknologi, bagaimana dengan akhlak anak?”
“Apakah penggunaan gadget di sekolah justru membuat anak semakin lalai?”
“Bisakah pendidikan modern menjaga nilai-nilai Islam?”
Pertanyaan-pertanyaan ini sangat wajar.
Tetapi masalahnya bukan pada teknologinya..
Masalahnya adalah bagaimana teknologi itu digunakan.
Teknologi adalah alat, bukan musuh
Sering kali kita terlalu cepat menyalahkan teknologi. Padahal teknologi hanyalah alat. Ia bisa menjadi kebaikan, tetapi juga bisa menjadi keburuan, tergantung siapa yang menggunakannya.
Ibarat sebuah pisau, ia bisa dipakai untuk memotong sayur, tapi ia juga bisa dipakai untuk melukai. Begitu pun dengan internet, ia bisa dipakai untuk belajar, namun bisa pula dipakai untuk hal yang merusak. AI bisa membantu dalam pendidikan, namun bisa juga membuat orang malas berpikir. Maka dari itu, yang paling penting adalah bukan menjauhi teknologinya, tetapi mendidik manusia agar bijak menggunakan teknologi.
Dan di sinilah peran kita sebagai sekolah Islam.
Tantangan Guru di Abad 21
Guru di zaman sekarang menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan dengan dahulu. Hari ini guru bukan hanya mengajar mata pelajaran, tetapi juga harus memahami karakter generasi digital, membangun akhlak siswa, menciptakan pembelajaran menarik, menguasai teknologi, sekaligus menjadi teladan bagi anak didiknya.
Sementara, peserta didik sekarang cepat bosan, menyukai visual, terbiasa mendapatkan informasi dengan cepat, dan lebih tertarik pada hal interaktif dibandingkan dengan dikasih ceramah panjang-panjang.
Kalau metode belajar tidak berubah, maka anak-anak akan semakin sulit focus. Inilah mengapa pendidikan abad ke-21 menuntut guru untuk terus berkembang.
Pendidikan tidak bisa lagi hanya sekedar ceramah
Dahulu, guru menjadi satu-satunya sumber ilmu. Sekarang tidak lagi. Hari ini anak bisa mencari jawaban apa pun dalam hitungan detik. Kalau sekolah hanya berisi mendengar, mencatat, menghafal, maka anak akan merasa sekolah tidak menarik.
Karena itu, pembelajaran perlu berubah menjadi: lebih aktif, lebih kontekstual, lebih kolaboratif, dan lebih bermakna. Guru bukan lagi pusat informasi. Guru adalah fasilitator, pembimbing, dan pembentuk karakter.
Apa itu pembelajaran abad ke-21?
Pembelajaran abad ke-21 sebenarnya bukan sekadar memakai teknologi, bukan sekadar tentang proyektor, bukan sekadar video pembelajaran, dan bukan sekadar kelas online. Tetapi pembelajaran abad ke-21 adalah tentang bagaimana menciptakan pembelajaran yang membuat siswa berpikir kritis, mampu memecahkan masalah, mampu bekerja sama, kreatif, dan mampu menghadapi tantangan dunia nyata.
Anak-anak tidak cukup hanya pintar menghafal; mereka perlu belajar berpikir. Inilah yang menjadi tantangan besar pendidikan hari ini.
Sekolah Islam tidak boleh tertinggal
Kadang ada kekhawatiran bahwa sekolah Islam akan kehilangan identitas jika terlalu mengikuti perkembangan teknologi. Padahal justru sebaliknya, sekolah Islam harus menjadi pelopor pendidikan masa depan. Sekolah Islam harus menjadi yang pertama; maju teknologinya, kuat akhlaknya, dan kokoh nilai-nilai Islamnya.
Karena kalau sekolah islam tertinggal teknologi, maka anak akan belajar dunia digital dari luar tanpa bimbingan nilai-nilai Islami. Anak-anak tetap hidup di era internet, tetap menggunakan media sosial dan tetap berhadapan dengan AI.
Pertanyaannya…
Siapakah yang membimbing mereka?
Nilai-nilai islam harus hadir dalam semua mata Pelajaran
Salah satu kesalahan adalah menganggap bahwa nilai-nilai Islam hanya sebagai tugas guru agama/diniyah. Padahal seluruh matapelajaran harusnya membentuk karakter Islami.
Matematika bisa mengajarkan kejujuran dan ketelitian, IPA bisa mengajarkan kekaguman akan ciptaan Allah, IPS bisa mengajarkan keadilan sosial dan welas asih terhadap sesama, bahasa bisa mengajarkan adab-adab dalam berbicara dan berkomunikasi. Olahraga bisa mengajarkan disiplin dan sportivitas.
Islam bukan hanya tentang matapelajaran, namun islam adalah cara berfikir dan cara hidup. Karena itu, intergarasi nilai-nilai islam tidak harus selalu berupa mencantumkan ayat dalam slide atau menambahkan hadits dalam setiap materi. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai islam itu hidup dalam setiap budaya belajar.
Teknologi bisa memperkuat Pendidikan islam
Banyak guru mulai memanfaatkan teknologi untuk membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan bermakna. Contohnya dengan menggunakan video pembelajaran interaktif, kuis digital, presentasi visual, podcast edukasi, simulasi virtual hingga project berbasis multimedia.
Dengan teknologi, pembelajaran menjadi lebih dekat dengan dunia anak. Bahkan pendidikan Islam pun bisa berkembang menjadi lebih kreatif, seperti adanya tadabbur Al-Qur’an digital, animasi sejarah Islam, konten dakwah interaktif, jurnal refleksi online, hingga pembelajaran berbasis proyek sosial yang melibatkan netizen online. Teknologi justru menjadi sarana memperluas manfaat pendidikan Islam.
Guru tidak harus langsung mahir
Salah satu yang sering membuat guru takut berkembang adalah merasa harus langsung bisa semuanya. Padahal tidak demikian, guru tidak harus langsung ahli dalam mendesain, tidak harus langsung jago editing, tidak harus langsung menguasai semua aplikasi.
Mulailah dari hal kecil, seperti belajar membuat presentasi menarik, mencoba kuis online, menggunakan video sederhana atau memakai platform digital seperti Zoom Meeting atau Google Meet. Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan terus menerus.
Pendidikan masa depan tetap membutuhkan sentuhan manusia
Walaupun teknologi berkembang sangat cepat, ada satu hal yang tidak bisa digantikan oleh mesin, yakni keteladanan manusia. AI mungkin bisa menjelaskan materi, internet mungkin bisa memberi jawaban, tetapi akhlak, empati, kasih sayang, adab dan nilai-nilai hidup tetap membutuhkan sentuhan seorang guru. Karena sejatinya pendidikan bukan hanya sekadar mentransfer ilmu, pendidikan adalah proses manusia mengenal Rabb-Nya, mengenal buat apa dia diciptakan di muka bumi ini, sehingga jadilah ia seorang manusia yang insan kamil, bermanfaat untuk dunia dan akhiratnya.
Maka dari itu, manusia tidak dibentuk dengan teknologi melainkan manusia dibentuk dengan keteladanan.
Penutup
Dunia akan terus berubah. Teknologi akan terus berkembang, dan artificial intelligence akan semakin masuk dalam dunia pendidikan. Tetapi satu hal yang tidak boleh hilang , yaitu nilai dan akhlak. Sekolah islam memiliki peluang besar untuk menghadirkan pendidikan yang seimbang; modern, adaptif, kreatif, tetapi tetap berlandaskan nilai-nilai islam. Karena tujuan akhir pendidikan sejatinya bukan sekadar mencetak anak pintar, melainkan membentuk insan yang berilmu, beradab, berpikir kritis, dan siap menghadapi tantangan zaman. Semua itu kita lakukan demi meraih keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar kelak dimasukkan ke dalam surga-Nya tanpa azab dan tanpa hisab. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Teknologi dan Nilai-nilai Isla...
17 May 2026RAKER TAHUANAN: Menyatukan Vis...
04 May 2026TKA Gantikan Ujian Nasional, P...
27 April 2026???? Dua Hari Penuh Ikhtiar: U...
15 April 2026